Sore itu, langit Bogor berwarna keemasan. Saya dan bapak berjalan pelan di kawasan Tepas Lawang Salapan Dasakreta, persis di samping Tugu Kujang yang jadi penanda kota ini. Lalu lintas masih ramai, langkah kami berhenti di antara deretan pilar putih yang menjulang.
“Tau nggak, dek, ini bukan
sekadar bangunan,” kata bapak sambil menatap ke atas, ke arah sepuluh pilar
yang berdiri kokoh.
Saya tersenyum. Bapak memang
bukan orang asli Bogor, tapi setelah puluhan tahun tinggal di sini, ia seperti
hafal betul setiap cerita yang menempel pada kota hujan ini.
“Lawang Salapan ini dibangun
sejak 1982, tapi baru diresmikan tahun 2016,” ia melanjutkan. “Dibuat sebagai
berandanya kota Bogor, kayak pintu masuk. Makanya disebut lawang, pintu.”
Saya mengangguk, mencoba meresapi
kata-kata bapak. Ada semacam kebanggaan di wajahnya saat bercerita, seakan
bangunan ini bukan hanya milik warga Bogor, tapi juga milik siapa saja yang
sudah lama singgah dan jatuh cinta pada kota ini.
Kami berhenti sejenak di antara
tiang. Bapak menunjuk deretan pilar itu.
“Dasakreta artinya sepuluh.
Sepuluh pilar yang membentuk salapan, atau sembilan pintu. Ada filosofinya: Silih
asih, silih asah, silih asuh.”
“Artinya apa, Pak?” tanya saya.
“Ya… saling mengasihi, saling
mengingatkan, saling menjaga. Dari situ lahirlah sembilan nilai kehidupan:
damai, persahabatan, indah, satu, santun, tertib, nyaman, ramah, dan selamat.”
Kata-katanya sederhana, tapi
terasa menempel. Saya menatap sekitar: anak-anak muda sibuk berfoto, pasangan
muda duduk berdua, pedagang kecil tersenyum menawarkan minuman. Tiba-tiba saya
merasa nilai itu hidup nyata di hadapan saya.
Kami kembali melangkah. Di atas
bangunan, sebuah kalimat terpampang jelas: “Di Nu Kiwari Ngancik Ni Bohari
Seja Ayeuna Sapeureun Jaga.”
“Apa artinya, Pak?”
Bapak tersenyum. “Itu semboyan
Kerajaan Pajajaran. Artinya, apa yang kita punya sekarang adalah hasil kerja di
masa lalu. Dan apa yang kita lakukan sekarang adalah bekal untuk masa depan.”
Saya terdiam. Kalimat itu seperti
nasihat yang tak pernah basi, mirip seperti wejangan bapak yang sering ia
ulangi sejak kecil. Bedanya, kali ini saya mendengarnya langsung dari sebuah
warisan budaya, terpahat kokoh di tengah kota.
Matahari mulai condong, cahaya
jingga menyapu wajah bapak. Ia menepuk bahu saya pelan.
“Kadang orang lihat ini cuma bangunan buat foto-foto. Padahal sebenarnya, ini
pengingat. Bahwa kita harus selalu ingat dari mana kita datang, apa yang kita
lakukan, dan ke mana kita mau pergi.”
Saya menatap bapak, lalu menatap
bangunan megah di hadapan kami. Ada rasa hangat yang tumbuh, bukan hanya karena
cerita yang ia sampaikan, tapi karena kesadaran sederhana: momen kecil bersama
bapak, berjalan dan bercerita di bawah pilar-pilar ini.
Kami melangkah pulang perlahan,
meninggalkan deretan pilar yang masih berdiri anggun di belakang. Bagi banyak
orang, Lawang Salapan hanyalah ikon kota. Tapi bagi saya, sore itu ia menjadi
ruang sederhana yang menyatukan cerita: tentang Bogor, tentang sejarah, dan
tentang percakapan hangat saya dengan bapak yang tak ternilai harganya. RM
sepuluh pilar, salapan lawang, keren betul kota hujan
BalasHapus