02 Maret 2024

Ruang ICCU Rumah Sakit PMI Bogor, Sabtu (02/03/2024). Foto: Revani Meiliana/REVANEWS.

Ditulis oleh: Revani Meiliana

Jumat malam, 01 Maret 2024, udara Bogor terasa dingin, menusuk hingga ke tulang.  Dinginnya bukan hanya karena suhu, tapi juga karena firasat buruk yang mulai menggelayut di hati. Malam itu, Ibuku terbaring lemah di ranjang Rumah Sakit PMI Kota Bogor, kamar rawat inap Seruni. Malam itu, kondisi Ibuku menurun drastis.

Wajahnya pucat pasi, tangannya dipenuhi selang infus yang mengalirkan darah, di hidungnya terpasang selang oksigen sebagai alat bantu bernafas. Saturasi oksigennya hanya 35%, jauh dari angka normal 95%. Angka itu seperti palu yang menghantam dadaku.

Ibuku mengalami drop, tubuhnya menegang, kejang-kejang, napasnya tersengal-sengal. Rasanya, napasku pun ikut sesak, tercekik oleh kesedihan yang semakin membuncah. Setiap detik terasa begitu panjang, menguras seluruh tenaga dan harapanku. Aku hanya bisa menggenggam tangannya, merasakan betapa dingin kulitnya.

Pukul 21.00, suasana rumah sakit terasa sunyi dan mencekam. Ibu dilarikan ke ruang ICCU. Aku, Bapak, dan kakakku mengikuti di belakang, langkah kaki kami terasa berat, tangis kami tak terbendung, air mata mengalir deras, membasahi pipi yang terasa dingin. Melihat Ibu kesakitan, kami seakan turut merasakan penderitaannya yang begitu nyata. Hatiku hancur berkeping-keping. Rasanya, aku ingin sekali menggantikan posisinya, menanggung semua rasa sakit yang dideritanya.

Di depan pintu ICCU, kami hanya bisa menunggu, mengharapkan sebuah keajaiban datang. Kami tidak bisa tenang, jantung kami berdebar-debar tak karuan, dicampur rasa cemas dan harapan yang menggantung. Waktu seakan berjalan lambat, setiap detik terasa seperti berabad-abad. Mengombang-ambing perasaan kami, terasa begitu sakit, dan menyiksa.

Panggilan pertama dari ruang ICCU membuat jantung kami berdetak kencang, permintaan persetujuan untuk pemasangan alat bantu pernapasan dan kateter. Bapak, dengan suara bergetar menahan tangis, menyetujuinya. Sebuah tindakan yang menciptakan secercah harapan bagi kami. 

Panggilan kedua membawa sedikit kelegaan. Kondisi Ibu stabil, saturasi oksigennya kembali normal 95%. Sejenak, rasa lega menyelimuti hati kami, namun hal itu hanya bertahan sesaat, sebelum menghadapi ujian yang lebih berat.

Panggilan ketiga kembali datang, membawakan kabar buruk yang menghancurkan. Kondisi Ibu kembali menurun drastis, bahkan Ibu sempat henti jantung. Dokter memintaku untuk melepas anting Ibu. Saat itu, firasat buruk begitu kuat menghantui isi kepalaku yang berantakan. Jantungku berdebar semakin kencang, rasanya seperti mau copot dari tempatnya. Aku merasakan kepanikan yang begitu besar, ketakutan kehilangan yang tak tertahankan.

Panggilan keempat ialah panggilan terakhir. Di dalam ruang ICCU, suasana terasa begitu mencekam. Aku menyaksikan langsung perjuangan Ibu melawan maut. “Nitt.. nitt.. nitt..” suara mesin-mesin medis berdengung di telingaku, suara-suara itu seakan mencekik batinku. Tubuh Ibuku bergetar kejang.

Aku melihat dokter berusaha keras dengan alat pompa jantung. Aku dan kakakku terus melantunkan talqin di telinga Ibu, air mata membanjiri wajah kami, membasahi pipi dan bantal di bawah kepala Ibu. Aku memeluk erat tubuh Ibu yang kaku, seraya memanggili Ibu.

"Ibu, bangun, Ibu.. Jangan tinggalkan kita,” kata-kata itu kami ucapkan berulang-ulang sambil menangis hebat. “Ibu.. De Mpa belum lulus kuliah, Bu.. Ibu kan udah janji bakalan nemenin De Mpa sampai lulus kuliah" ucapku diiringi isak tangis yang mencekik, tangisan yang paling menyakitkan dan penuh dengan keputusasaan. 

Dokter menjelaskan bahwa detak jantung yang terasa hanyalah getaran dari alat bantu pernapasan. Pukul 03.20, dini hari, Sabtu, 02 Maret 2024, waktu seakan berhenti. Ibu menghembuskan napas terakhirnya. Dokter melepaskan semua alat medis dari tubuh Ibu. Duniaku seakan runtuh, hatiku hancur berkeping-keping. Rasa kosong yang begitu dalam mencengkeramku, seperti dihantam badai yang tak berujung. Orang yang paling kusayangi, telah pergi untuk selama-lamanya.

Di lorong rumah sakit, Bapak memeluk aku dan kakakku, kami menangis bersama, tangisan kali ini rasanya begitu pilu dan menyayat hati.

"Yang kuat, ya.." bisik Bapak, suaranya bergetar menahan isak tangis, "Ibu udah engga sakit lagi, Ibu udah tenang di sana." Bapak menangis, sesuatu yang belum pernah kulihat sebelumnya. Melihat Bapak menangis, rasa sakitku semakin bertambah. Bapak memberitahu berita duka ini pada keluarga, satu per satu keluargaku mendatangi rumah sakit. Aku hanya bisa terdiam menerima kenyataan pahit ini. 

Perjalanan menuju rumah duka terasa begitu panjang dan berat. Aku dan Bapak berada di dalam ambulans, aku menangis seraya memeluk keranda Ibu. Tangis tak henti mengiringi perjalanan itu, tangis yang begitu pilu. Setiap detik terasa begitu lama dan sangat menyiksa.

Sesampainya di rumah, suasana duka begitu terasa. Suara toa masjid mengumumkan kepergian Ibu. Aku tak asing mendengar suara itu, suara Kakekku sendiri, jelas terdengar pilu dan terisak. Mendengarnya tangisku kembali pecah, bahkan lebih keras dari sebelumnya. 

Bendera kuning dipasang di beberapa sudut rumahku, tetangga satu per satu berdatangan untuk bertakziah. Hari itu, duniaku runtuh, nuansa kesedihan menyelimuti batinku. Namun, aku berusaha untuk tetap kuat, agar aku bisa membersamai Ibu disaat-saat terakhir aku bisa melihatnya. Aku ikut memandikan, mengkafani, membacakan yasin, menshalatkan, dan mengantar Ibu ke peristirahatannya terakhirnya.


Pengantaran Jenazah Menuju Tempat Peristirahatan Terakhir, Sabtu (02/03/2024). Foto: Revani Meiliana/REVANEWS.

Sejak hari itu, aku kehilangan sosok yang paling kucintai, sosok yang selalu menjadi tempatku bersandar. Duniaku terasa hampa, sunyi, dan begitu sepi tanpa kehadirannya. Setiap langkahku terasa berat, dan setiap napasku terasa sesak. Kehilangan Ibu adalah bentuk kehilangan paling menyakitkan yang pernah kurasakan.

Rindu ini, bagaikan luka yang mungkin tak akan pernah sembuh. Setiap hari aku selalu merindukan kehadirannya, rindu akan pelukan hangatnya, dan rindu akan suara lembut yang selalu mampu menenangkanku. Aku merindukannya, sangat merindukannya.

Kini rumah terasa sepi tanpa kehadirannya, tak ada lagi suara lembut yang menyambutku pulang. Biasanya, Ibu yang paling antusias mendengarkan ceritaku, meski hanya cerita sepele tentang hariku. Namun, bagiku Ibu adalah tempat cerita ternyaman. Keluh kesahku, yang dulu selalu Ia dengar dengan sabar, kini hanya bisa kupendam sendirian. 

Aku selalu teringat akan sikap positif yang terpancar dari dalam dirinya, lembutnya perkataan dan perbuatannya, aura ketenangan yang selalu menyelimutiku saat berada di dekatnya. Ibu selalu mengedepankan keluarga, bahkan Ia jarang sekali memainkan ponselnya, Ia lebih senang menghabiskan waktu bersama kami, dan memprioritaskan momen berkualitas bersama kami, anak-anaknya. Namun, kini semua itu hanya tersisa kenangan.

Kehilangan seorang Ibu rasanya seperti kehilangan dunia, seakan hanya ragaku yang masih berada di dunia, namun jiwaku ikut terkubur bersama jasadnya. Ternyata seberat ini hidup tanpa iringan doa dari seorang Ibu. Duniaku benar-benar hilang ketika Ibu tidak di sampingku lagi, tanpa sadar aku mengundang hujan pada kedua kelopak mataku, hingga basah kuyup setiap kali kumengingatnya.

Kehilangan salah satu orang tua bagi seorang anak yang masih membutuhkan figurnya seperti badai yang menghantam secara tiba-tiba, terasa sangat pedih. Hebatnya, walaupun raganya sudah tidak ada lagi, tapi beliau masih selalu menjadi alasan untukku tetap hidup.

Untuk bumi dan tanah terima kasih sudah memeluk dan menjaga orang yang paling aku sayangi, aku titip Ibu ya. Karena aku hanya bisa mendoakannya dari jauh. Bagi dunia, Ia hanya satu orang, tapi bagi yang ditinggalkan, satu orang itu adalah dunianya.

Bentuk cinta paling indah adalah ketika aku bisa mengikhlaskan kepergian Ibu untuk selama-lamanya. Aku mencoba ikhlas walau hati belum sepenuhnya menerima takdir. Aku berusaha melanjutkan hidupku, aku ingin tetap tegar, menjadi anak yang membanggakan, seperti yang selalu Ibu harapkan.

Aku tahu, di sana Ibu pasti ingin melihatku bahagia. Karena itu, aku akan terus berjuang, mengejar cita-citaku, membuat Ibu bangga di surga sana. Kasih sayang Ibu akan selalu menjadi cahaya yang menerangi jalanku. Aku percaya, suatu hari nanti, aku pasti akan bertemu dengan Ibu kembali. 

Rindu ini, ungkapan dari lubuk hatiku yang paling dalam, bentuk penghormatanku untuk bidadari penyayangku, Ibu. Doa dan restu darinya, akan selalu menjadi penuntun jalanku.

Kini, yang tersisa setelah kepergiannya adalah kenangan indah yang abadi, serta tekad untuk terus melangkah, menorehkan kebaikan seperti yang selalu Ia ajarkan, meneruskan mimpi-mimpi yang belum terwujud, dan selalu berusaha untuk terus mengharumkan namanya. Rest in peace Ibu, doaku selalu menyertaimu. RM

Tempat Peristirahatan Terakhir Ibu, Sabtu (02/03/2024). Foto: Revani Meiliana/REVANEWS.

2 Komentar

  1. yaallah sedih banget bacanya kaa, semangat terus ya kaa, husnul khatimah buat ibunya kakaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiin, terima kasih banyak kaak🙏🏻🤲🏻

      Hapus
Lebih baru Lebih lama