Sepenggal Kisah di Pa Auk Tawya Vipassana Dhura Hermitage

Pa Auk Tawya Vipassana Dhura Hermitage Tamansari Ciapus Bogor. Foto: Revani Meiliana/REVANEWS


Gang kecil di Warung Loa, Tamansari, siang itu terasa lebih lengang dari biasanya. Kamera saya siap di tangan, niat awalnya sederhana, hunting foto untuk tugas kuliah. Tapi entah kenapa langkah saya berhenti lama di depan sebuah bangunan sederhana dengan papan nama bertuliskan Pa Auk Tawya Vipassana Dhura Hermitage, Tamansari – Ciapus.

Papan kayu itu berdiri kokoh, ditemani ornamen bundar menyerupai roda dharma di sisi kanannya. Rimbun pepohonan memeluk sekitarnya, sementara cahaya matahari menerobos di antara celah daun, meninggalkan jejak pelangi tipis di lensa kamera saya. Hening, tapi hangat.

Saat saya sedang membidik pepohonan di sekitarnya, seorang remaja lewat, mengenakan dress putih sederhana. Rambutnya disanggul rapi, wajahnya tenang. Ia sempat melirik saya, lalu tersenyum dan bertanya, “Kak, lagi motret ya?”

Obrolan singkat itu berkembang. Rupanya ia seorang penganut Buddha yang kerap berkunjung ke hermitage ini.

“Di sini orang belajar Samatha dan Vipassanā,” katanya sambil menunjuk ke arah bangunan di balik pagar. 

“Samatha itu melatih fokus pikiran. Vipassanā melatih kebijaksanaan, biar bisa melihat hidup apa adanya.”

“Kalau di Islam, mirip kayak zikir ya,” saya menimpali. “Kalimatnya sederhana, tapi hati bisa lebih tenang.”

Ia tersenyum tipis. “Iya, beda jalan tapi sama-sama cari ketenangan.”

Dari ceritanya, saya tahu kalau hermitage ini mengikuti ajaran Pa Auk Tawya Sayadaw, seorang guru meditasi besar dari Myanmar. Metodenya sudah menyebar ke berbagai negara, sampai akhirnya punya jejak di Bogor.

“Kitab yang dipakai juga lengkap,” ujarnya. 

“Tipiṭaka, Aṭṭhakathā, Ṭīkā, dan terutama Visuddhi Magga. Itu semacam peta batin buat kami.”

Saya kembali mengangkat kamera. Sinar matahari siang memantul di dress putih yang ia kenakan, kontras dengan teduhnya pepohonan. Sekilas, suasana itu terasa seperti lukisan: keheningan, cahaya, dan cerita yang berkelindan.

“Kalau ikut meditasi, apa rasanya?” tanya saya penasaran.

“Awalnya ribut, pikiran ke mana-mana. Tapi lama-lama, ada ruang lega di kepala, kayak kosong tapi adem,” jawabnya sambil tersenyum.

Saya refleks ikut tersenyum. “Di Islam juga ada istighfar. Kalau diulang-ulang, hati rasanya plong.”

“Lucu ya,” katanya, “kita beda agama, tapi sama-sama diajarkan untuk menundukkan hati.”

“Iya,” balas saya, “karena hati yang tenang itu milik semua orang.”

Saya memang tidak pernah masuk ke dalam hermitage itu. Tapi dari luar saja, saya merasa tempat ini bukan sekadar bangunan meditasi. Ia seperti cermin yang mengingatkan bahwa manusia, apa pun keyakinannya, butuh ruang hening.

Kamera saya mungkin hanya merekam bentuk fisik, atap, pagar, pepohonan, roda dharma di dindingnya. Tapi pertemuan singkat dengan wanita berpakaian putih itu membuat hati saya menangkap sesuatu yang lebih halus: diam bisa menghidupkan, hening bisa mendekatkan kita pada kebaikan.

Kami akhirnya berpisah di ujung jalan kecil. Ia melangkah ringan dengan dress putih yang berkibar pelan, sementara saya menenteng kamera dengan hasil jepretan seadanya. Tapi saya sadar, bukan foto yang paling berharga hari itu.

Saya pulang dengan satu teman baru, satu cerita lintas iman, dan satu pesan sederhana: perbedaan bisa jadi jembatan, bukan jurang, selama kita mau saling menghormati. RM

 

2 Komentar

Lebih baru Lebih lama