Ditulis oleh: Revani Meiliana
Hujan baru saja reda sore itu. Jalanan di sekitar Baranangsiang masih basah, udara dingin menempel lembut di kulit. Dari kejauhan, sebuah monumen menjulang, berdiri gagah di tengah simpang jalan. Itulah Tugu Kujang, penanda paling terkenal bagi siapa pun yang memasuki Kota Bogor.
Monumen yang Menyimpan Sejarah
Tugu Kujang didirikan pada 4 Mei
1982, saat Achmad Sobana menjabat sebagai wali kota. Tingginya mencapai 25
meter, dengan bobot kujang raksasa di puncaknya sekitar 800 kilogram. Kujang,
pusaka khas Sunda, dipilih sebagai bentuk monumen bukan tanpa alasan.
Kujang adalah simbol keberanian
dan keadilan, juga lambang pelindung rakyat pada masa Kerajaan Pajajaran.
Dengan menjadikan kujang sebagai ikon, Bogor seakan ingin selalu terhubung
dengan sejarahnya, sekaligus meneguhkan identitasnya sebagai kota budaya Sunda.
Di kaki tugu, sebuah prasasti
kecil menyimpan kalimat dari Prasasti Batutulis peninggalan Pajajaran:
“Dinu kiwari ngancik nu
bihari, seuja ayeuna sampeureun juga.”
(“Apa yang dilakukan hari ini dan esok harus lebih baik dari hari sebelumnya.”)
Kalimat itu tidak hanya sekadar
ukiran, melainkan napas yang hidup di tengah masyarakat.
Ramahnya Orang Bogor
Siapa pun yang singgah di sekitar
Tugu Kujang akan merasakan sesuatu yang khas: keramahan orang Bogor. Seorang
pedagang gorengan tersenyum saat ditanya arah. “Kumaha, neng bade ka mana? Kieu
wae, lurus, engké ka katuhu,” ucapnya sambil menjelaskan dengan telaten.
Di lain sisi, sekelompok anak
muda berkumpul, bercanda sambil menunggu teman. Saat seorang wisatawan mendekat
untuk bertanya jalan, mereka menjawab dengan sopan dan antusias. “Tenang, Kang,
gampang. Ikut aja kami, sekalian jalan,” katanya, seakan mereka sudah lama
kenal.
Keramahan itu tidak dibuat-buat.
Ia lahir dari kebiasaan, dari warisan budaya, dan dari sikap hidup yang sudah
tertanam. Orang Bogor percaya, tamu adalah bagian dari keluarganya, sehingga
menyambut dengan senyum adalah hal yang wajar.
Lebih dari Ikon Kota
Seiring waktu, Tugu Kujang tidak
hanya menjadi monumen sejarah, tapi juga titik temu masyarakat. Banyak keluarga
menjadikannya tempat berfoto saat hujan reda. Banyak komunitas menggunakan
areal sekitarnya untuk mengadakan kegiatan budaya atau bazar UMKM.
Tugu Kujang hidup karena
warganya. Ia bukan sekadar tugu beton yang berdiri kokoh, tetapi simbol
kehangatan yang terus dipelihara.
“Lamun datang ka Bogor, sing
inget teu ukur tuguna, tapi ogé ramahna jalma-jalma na,” ujar seorang pemuda
setempat sambil tersenyum. (Kalau datang ke Bogor, jangan hanya ingat
tugunya, tapi juga keramahan orang-orangnya.)
Salam dari Kota Hujan
Setiap kali hujan mengguyur
dan pelangi muncul di langit Bogor, Tugu Kujang tetap berdiri tegak, menghadap
lalu-lalang kendaraan yang tak pernah berhenti. Ia tidak berbicara, namun
kehadirannya selalu menyapa.
Dan ketika orang-orang datang, mereka tidak hanya melihat sebuah monumen, tetapi juga merasakan keramahan khas Bogor yang membuat siapa pun betah. Karena pada akhirnya, Tugu Kujang bukan hanya milik sejarah, ia adalah wajah ramah Kota Hujan, yang selalu siap menyambut siapa saja dengan senyum tulus. RM