Pers Dibungkam, Rakyat Kehilangan Suara

Ilustrasi pers dibungkam. (Dok. journoliberta.com)

Ditulis oleh: Revani Meiliana

Saya, mahasiswa jurnalistik, selalu diajarkan bahwa pers adalah pilar keempat demokrasi. Pers bebas bertanya, pemerintah terbuka menjawab, dan publik berhak mengetahui. Tapi belakangan, saya semakin sadar, pilar itu retak.

Kasus pencabutan izin liputan wartawan CNN Indonesia oleh Biro Pers Istana menjadi bukti nyata. Satu pertanyaan tentang program Makanan Bergizi (MBG) bagi anak sekolah saja dianggap mengganggu, dan akses liputan dicabut. Tidak ada pertanyaan yang berlebihan, tidak ada jawaban yang menyinggung, tetapi ID pers dicabut. Bagi saya, mahasiswa jurnalistik, itu alarm keras, ruang bertanya di negeri ini semakin sempit.

Tekanan Politik dan Ekonomi: Belenggu Ganda

Tekanan terhadap pers bukan hanya soal fisik atau kekerasan. Di Indonesia, politik dan ekonomi bekerja bersama membatasi kebebasan media. Media kehilangan pemasukan karena iklan lari ke raksasa digital, sebagian media pun terpaksa tunduk pada penguasa, atau mengejar klik demi bertahan hidup. Bagi mahasiswa seperti saya, ini dilema besar, belajar idealisme jurnalistik, tapi dunia nyata menuntut kompromi.

Kekerasan yang Menakutkan

Menurut catatan Aliansi Jurnalis Independen (AJI), sepanjang 2024 terdapat 73 kasus kekerasan terhadap jurnalis. Ironisnya, aparat keamanan termasuk di antara pelaku terbanyak. Saya bertanya, bagaimana bisa negara melindungi demokrasi jika ia sendiri menjadi ancaman bagi pers?

Demokrasi Butuh Jurnalis Bebas

Saya menulis ini bukan sekadar protes, tapi sebagai peringatan, ketika pers dibungkam, publik kehilangan hak untuk tahu, dan demokrasi kehilangan nafasnya. Saya, mahasiswa jurnalistik, melihat ini sebagai panggilan untuk generasi saya, jurnalis bukan hanya profesi, tapi pertahanan terakhir terhadap kebebasan berpikir dan bersuara.

Jika ruang bertanya terus ditutup, kelak bukan hanya jurnalis yang kehilangan tempat, tetapi seluruh rakyat yang kehilangan suara. Dan saat itu terjadi, demokrasi di Indonesia bukan lagi sekadar retorika reformasi, melainkan ilusi. RM

 

Lebih baru Lebih lama