Review Film: Komang (2025) Cinta Beda Agama Berujung Manis

Film Komang (Sumber: kompas.com)


Ditulis oleh: Revani Meiliana

Film Komang garapan sutradara Naya Anindita, yang diadaptasi dari kisah nyata komedian Raim Laode dengan istrinya, Komang Ade Widiandari, film produksi Starvision ini menawarkan drama romantis yang ringan namun tetap sarat makna. Naskahnya ditulis oleh Evelyn Afnilia dengan Kiesha Alvaro berperan sebagai Raim Laode atau Ode, dan Aurora Ribero sebagai Komang Ade Widiandari alias Ade.

Sinopsis (tanpa spoiler)

Komang mengisahkan perjalanan cinta Ode, pemuda asal Buton yang beragama Islam, dengan Ade, gadis Bali yang memeluk Hindu. Perbedaan keyakinan dan budaya menjadikan hubungan mereka penuh tantangan, apalagi keluarga Ade lebih condong pada Arya, sosok yang dianggap lebih sesuai. Sementara itu, Ode juga berjuang mengejar mimpinya menjadi komika, yang kerap berbenturan dengan hubungannya bersama Ade. Kisah ini dirangkai dengan momen manis, konflik keluarga, hingga percikan humor yang membuat cerita terasa lebih hidup.

Akting & Chemistry

Chemistry antara Aurora Ribero dan Kiesha Alvaro menjadi salah satu kekuatan utama film ini. Aurora mampu menghadirkan sosok Ade yang lembut namun tegas, sedangkan Kiesha menampilkan Ode yang lugu, jenaka, tetapi tetap emosional. Meski begitu, ruang eksplorasi emosi untuk karakter Ode masih bisa diperluas agar tampil lebih berlapis. Aktor pendukung juga memberi warna tersendiri, terutama Arie Kriting yang hadir dengan humor segar dan mencuri perhatian di beberapa adegan.

Gaya Penyutradaraan

Naya Anindita berhasil meramu kisah ini dengan nuansa hangat dan ringan. Alur cerita terasa manis dan mudah diikuti, meski pada beberapa bagian tampak terlalu padat sehingga ada momen emosional yang tidak tergarap maksimal. Beberapa adegan juga terkesan tidak terlalu diperlukan. Namun demikian, sentuhan penyutradaraan tetap mampu menjaga cerita agar mengalir dengan baik, terutama dalam menghadirkan pesan toleransi antar keluarga yang divisualisasikan secara sederhana namun bermakna.

Visual & Musik

Sinematografi menjadi salah satu daya tarik besar dalam Komang. Panorama Baubau dan Bali ditampilkan dengan begitu indah, ditambah pencahayaan lembut serta tone warna hangat yang membuat setiap adegan tampak romantis. Lagu-lagu Raim Laode, terutama Komang, digunakan dengan tepat untuk memperkuat emosi di momen-momen penting. Kehadiran humor ringan di beberapa bagian juga menjaga ritme film agar tetap segar dan tidak terlalu serius.

Plus & Minus

Kelebihan Komang terletak pada chemistry kuat antara dua pemeran utamanya, visual yang memanjakan mata, serta penggunaan musik yang pas. Ceritanya sederhana tetapi tetap bisa menyentuh, dengan selipan komedi yang membuat penonton nyaman mengikuti kisah Ode dan Ade. Namun, konflik utama mengenai perbedaan agama dan budaya terasa hanya digarap di permukaan dengan penyelesaian yang terlalu cepat. Alur cerita juga tidak sepenuhnya konsisten, ada bagian yang berjalan lambat dan ada pula yang tampak tergesa-gesa. Selain itu, unsur budaya Bali dan Buton lebih sering tampil sebagai latar estetika daripada menjadi bagian penting dalam cerita.

Secara keseluruhan, Komang menjadi tontonan yang menarik bagi penikmat drama romantis ringan dengan suguhan visual menawan dan akting solid dari para pemain utama. Meski bukan film dengan konflik mendalam, kisah cinta Ode dan Ade tetap hangat dan menghibur. RM


Lebih baru Lebih lama