Ditulis oleh: Revani Meiliana
Bogor, Reva News – Ratusan
warga memadati Masjid Baiturrahim, Kampung Cibogel, Desa Kota Batu, Kecamatan
Ciomas, Kabupaten Bogor, Selasa, (09/09/2025) malam, untuk memperingati Maulid
Nabi Muhammad SAW. Perayaan yang berlangsung sehabis salat Isya ini semakin
semarak dengan digelarnya tradisi Nyorog Bongsang, sebuah kearifan lokal yang
telah diwariskan turun-temurun.
Maulid Nabi Muhammad SAW diperingati setiap tanggal 12 Rabi’ul Awwal dalam kalender Hijriah. Bagi umat Islam, perayaan ini merupakan momentum mengenang kelahiran Nabi Muhammad SAW sebagai utusan terakhir Allah SWT sekaligus meneladani ajarannya. Meski tidak ada ketentuan baku mengenai cara merayakannya, tradisi ini memiliki nilai spiritual, sosial, dan budaya yang mendalam.
Di berbagai daerah, perayaan
Maulid diwarnai kegiatan keagamaan seperti pembacaan shalawat, tabligh akbar,
hingga pertunjukan seni bernuansa Islami. Di Bogor, masyarakat menjaga tradisi
berbagi melalui bongsang, keranjang kecil berbahan anyaman bambu yang berisi
makanan. Setiap keluarga biasanya menyumbangkan sedikitnya sepuluh bongsang,
baik berisi bahan mentah maupun makanan matang.
Bongsang tersebut dikumpulkan di
masjid, kemudian dibagikan kembali kepada jamaah usai acara. Tradisi ini bukan
hanya bentuk rasa syukur, tetapi juga wujud nyata ajaran kasih sayang dan
kepedulian sosial sebagaimana dicontohkan Nabi Muhammad SAW.
“Maulid Nabi penting untuk
mengingat sejarah besar Rasulullah SAW. Ini menjadi momentum agar generasi
penerus tidak melupakan teladan beliau,” ujar Ustadz Ghozali, tokoh agama
setempat.
Sementara itu, Ketua DKM Masjid
Baiturrahim, Ustadz Yan Rahmat Hidayat, menuturkan bahwa kehadiran ratusan
jamaah dalam perayaan Maulid dan tradisi bongsang menunjukkan semangat
persaudaraan umat Islam.
“Tujuan utamanya adalah mengharap
syafaat Rasulullah SAW sekaligus mempererat ukhuwah Islamiyah,” katanya.
Suasana kehangatan terlihat
jelas. Meski harus berdesakan dan antre panjang, masyarakat tetap sabar
menunggu giliran menerima bongsang yang berisi nasi, lauk-pauk, sayur, hingga
buah. Tradisi ini menjadi sarana memperkuat ikatan sosial dan menciptakan kebersamaan
di tengah masyarakat.
Iwan Alifiandra, warga Kampung
Cibogel, mengaku senang bisa ikut serta.
“Saya datang bersama anak ke
masjid habis Isya. Alhamdulillah dapat dua bongsang. Acara ini bukan hanya
membawa keberkahan, tapi juga sangat membantu dengan makanan olahan di
dalamnya,” ungkapnya.
Ia berharap tradisi yang telah
ada sejak zaman dahulu ini tetap dijaga dan dikembangkan.
“Semoga Nyorog Bongsang terus
dipertahankan dan ke depan acaranya lebih meriah lagi,” pungkasnya.
Tradisi bongsang yang mewarnai peringatan Maulid Nabi di Bogor bukan sekadar seremonial budaya, melainkan simbol kepedulian, silaturahmi, dan cinta kepada Rasulullah SAW yang terus hidup di tengah masyarakat. RM
kok seru si kak di bogor, di jkt mah ngga ada tradisi bongsang
BalasHapusiyaa kak seru sekali tradisinya masih kental terasa, di jakarta juga gak kalah seru, ada pembagian nasi kebuli kan kak? 😁
Hapus