Review Film: Rumah untuk Alie (2025) Korban Luka dan Trauma

Film Rumah untuk Alie (Sumber: TribunnewsWiki.com)

Ditulis oleh: Revani Meiliana

Film Rumah untuk Alie, yang resmi tayang di bioskop sejak 17 April 2025, sukses membuat hati penonton tercabik oleh kisahnya yang menyentuh. Diangkat dari novel populer karya Lenn Liu dengan judul yang sama, film produksi Falcon Pictures ini menyuguhkan drama keluarga yang begitu emosional dan relevan dengan realita kehidupan banyak orang. Disutradarai oleh Hanung Bramantyo, film ini menampilkan deretan aktor berbakat seperti Anantya Kirana, Rizky Hanggono, Dito Darmawan, dan Rafly Altama Putra.

Sinopsis (tanpa spoiler)

Cerita berfokus pada Alie Ishala Samantha, anak bungsu dari lima bersaudara, yang justru menerima perlakuan keras dari keluarganya sendiri. Tragedi lima tahun silam menjadi pemicu luka dalam rumah tangga ini, sebuah kecelakaan yang membuat sang ibu meninggal dunia dan salah satu kakaknya cacat permanen. Sejak itu, Alie dianggap sebagai penyebab semua kesedihan, hingga ia terus disalahkan dan dijauhi. Meski begitu, Alie tetap berusaha bertahan dan memperbaiki hubungan keluarganya, berharap rumah bisa kembali menjadi tempat aman yang penuh cinta.

Akting & Chemistry

Anantya Kirana berhasil menghidupkan sosok Alie dengan sangat menyentuh. Gestur tubuhnya, ekspresi wajah, sampai tatapan matanya begitu autentik hingga penonton bisa ikut merasakan luka yang dipikul Alie. Chemistry dengan para pemeran lain pun terasa kuat, Rizky Hanggono sebagai Abimanyu yang dingin, Dito Darmawan sebagai Rama yang penuh emosi, hingga Rafly Altama Putra sebagai kakak yang masih menyayanginya. Semua aktor bermain maksimal, sehingga dinamika keluarga yang rumit itu tersaji sangat nyata di layar.

Gaya Penyutradaraan

Hanung Bramantyo memang dikenal jago menggarap drama emosional, dan di film ini ia berhasil menjaga ritme cerita agar tidak terasa berlarut-larut. Cara ia mengarahkan konflik keluarga terasa realistis, meski di beberapa bagian terlihat agak berlebihan dalam memainkan emosi. Namun justru gaya inilah yang membuat penonton larut, karena Hanung tahu kapan harus “menekan gas” drama dan kapan memberi ruang untuk penonton bernapas.

Visual & Musik

Dari segi visual, film ini menawarkan sinematografi yang lembut dengan tone warna agak kelam untuk menggambarkan suasana rumah yang penuh luka. Tata kamera kerap mengambil angle close-up sehingga ekspresi para aktor bisa terasa lebih dalam. Sementara itu, musik latar digarap dengan pas, tidak berlebihan, tapi cukup untuk mengiringi emosi penonton. Alunan musiknya sering kali meninggalkan bekas di hati, terutama pada adegan-adegan paling menyayat.

Plus & Minus

Kekuatan terbesar Rumah untuk Alie jelas ada pada ceritanya yang emosional dan dekat dengan kenyataan, ditambah akting para pemain yang begitu meyakinkan. Film ini juga berani mengangkat isu sensitif tentang perundungan dalam keluarga, sesuatu yang jarang dibicarakan tapi nyata terjadi di sekitar kita. Sayangnya, justru karena terlalu emosional, film ini bisa terasa berat untuk sebagian penonton. Beberapa adegan mungkin terlalu dramatis hingga terkesan sedikit berlebihan, bahkan bisa memicu ketidaknyamanan bagi mereka yang punya pengalaman serupa

Secara keseluruhan, Rumah untuk Alie adalah film yang layak ditonton, terutama bagi mereka yang mencari tontonan penuh makna dan refleksi emosional. Meski menyakitkan, film ini sekaligus mengajarkan bahwa harapan selalu ada bahkan dalam luka terdalam. RM

 

Lebih baru Lebih lama