Jumat malam, 01 Maret 2024, udara
Bogor terasa dingin, menusuk hingga ke tulang. Dinginnya bukan hanya
karena suhu, tapi juga karena firasat buruk yang mulai menggelayut di hati.
Malam itu, Ibuku terbaring lemah di ranjang Rumah Sakit PMI Kota Bogor, kamar
rawat inap Seruni. Malam itu, kondisi Ibuku menurun drastis.
Wajahnya pucat pasi, tangannya
dipenuhi selang infus yang mengalirkan darah, di hidungnya terpasang selang
oksigen sebagai alat bantu bernafas. Saturasi oksigennya hanya 35%, jauh dari
angka normal 95%. Angka itu seperti palu yang menghantam dadaku.
Ibuku mengalami drop, tubuhnya
menegang, kejang-kejang, napasnya tersengal-sengal. Rasanya, napasku pun ikut
sesak, tercekik oleh kesedihan yang semakin membuncah. Setiap detik terasa
begitu panjang, menguras seluruh tenaga dan harapanku. Aku hanya bisa menggenggam
tangannya, merasakan betapa dingin kulitnya.
Pukul 21.00, suasana rumah sakit
terasa sunyi dan mencekam. Ibu dilarikan ke ruang ICCU. Aku, Bapak, dan kakakku
mengikuti di belakang, langkah kaki kami terasa berat, tangis kami tak
terbendung, air mata mengalir deras, membasahi pipi yang terasa dingin. Melihat
Ibu kesakitan, kami seakan turut merasakan penderitaannya yang begitu nyata.
Hatiku hancur berkeping-keping. Rasanya, aku ingin sekali menggantikan
posisinya, menanggung semua rasa sakit yang dideritanya.
Di depan pintu ICCU, kami hanya
bisa menunggu, mengharapkan sebuah keajaiban datang. Kami tidak bisa tenang,
jantung kami berdebar-debar tak karuan, dicampur rasa cemas dan harapan yang
menggantung. Waktu seakan berjalan lambat, setiap detik terasa seperti
berabad-abad. Mengombang-ambing perasaan kami, terasa begitu sakit, dan
menyiksa.
Panggilan pertama dari ruang ICCU
membuat jantung kami berdetak kencang, permintaan persetujuan untuk pemasangan
alat bantu pernapasan dan kateter. Bapak, dengan suara bergetar menahan tangis,
menyetujuinya. Sebuah tindakan yang menciptakan secercah harapan bagi
kami.
Panggilan kedua membawa sedikit
kelegaan. Kondisi Ibu stabil, saturasi oksigennya kembali normal 95%. Sejenak,
rasa lega menyelimuti hati kami, namun hal itu hanya bertahan sesaat, sebelum
menghadapi ujian yang lebih berat.
Panggilan ketiga kembali datang,
membawakan kabar buruk yang menghancurkan. Kondisi Ibu kembali menurun drastis,
bahkan Ibu sempat henti jantung. Dokter memintaku untuk melepas anting Ibu.
Saat itu, firasat buruk begitu kuat menghantui isi kepalaku yang berantakan.
Jantungku berdebar semakin kencang, rasanya seperti mau copot dari tempatnya.
Aku merasakan kepanikan yang begitu besar, ketakutan kehilangan yang tak
tertahankan.
Panggilan keempat ialah panggilan
terakhir. Di dalam ruang ICCU, suasana terasa begitu mencekam. Aku menyaksikan
langsung perjuangan Ibu melawan maut. “Nitt.. nitt.. nitt..” suara mesin-mesin
medis berdengung di telingaku, suara-suara itu seakan mencekik batinku. Tubuh
Ibuku bergetar kejang.
Aku melihat dokter berusaha keras
dengan alat pompa jantung. Aku dan kakakku terus melantunkan talqin di telinga
Ibu, air mata membanjiri wajah kami, membasahi pipi dan bantal di bawah kepala
Ibu. Aku memeluk erat tubuh Ibu yang kaku, seraya memanggili Ibu.
"Ibu, bangun, Ibu.. Jangan
tinggalkan kita,” kata-kata itu kami ucapkan berulang-ulang sambil menangis
hebat. “Ibu.. De Mpa belum lulus kuliah, Bu.. Ibu kan udah janji bakalan
nemenin De Mpa sampai lulus kuliah" ucapku diiringi isak tangis yang
mencekik, tangisan yang paling menyakitkan dan penuh dengan keputusasaan.
Dokter menjelaskan bahwa detak
jantung yang terasa hanyalah getaran dari alat bantu pernapasan. Pukul 03.20,
dini hari, Sabtu, 02 Maret 2024, waktu seakan berhenti. Ibu menghembuskan napas
terakhirnya. Dokter melepaskan semua alat medis dari tubuh Ibu. Duniaku seakan
runtuh, hatiku hancur berkeping-keping. Rasa kosong yang begitu dalam
mencengkeramku, seperti dihantam badai yang tak berujung. Orang yang paling
kusayangi, telah pergi untuk selama-lamanya.
Di lorong rumah sakit, Bapak
memeluk aku dan kakakku, kami menangis bersama, tangisan kali ini rasanya
begitu pilu dan menyayat hati.
"Yang kuat, ya.." bisik
Bapak, suaranya bergetar menahan isak tangis, "Ibu udah engga sakit lagi,
Ibu udah tenang di sana." Bapak menangis, sesuatu yang belum pernah
kulihat sebelumnya. Melihat Bapak menangis, rasa sakitku semakin bertambah.
Bapak memberitahu berita duka ini pada keluarga, satu per satu keluargaku
mendatangi rumah sakit. Aku hanya bisa terdiam menerima kenyataan pahit
ini.
Perjalanan menuju rumah duka
terasa begitu panjang dan berat. Aku dan Bapak berada di dalam ambulans, aku
menangis seraya memeluk keranda Ibu. Tangis tak henti mengiringi perjalanan
itu, tangis yang begitu pilu. Setiap detik terasa begitu lama dan sangat
menyiksa.
Sesampainya di rumah, suasana
duka begitu terasa. Suara toa masjid mengumumkan kepergian Ibu. Aku tak asing
mendengar suara itu, suara Kakekku sendiri, jelas terdengar pilu dan terisak.
Mendengarnya tangisku kembali pecah, bahkan lebih keras dari sebelumnya.
Bendera kuning dipasang di beberapa sudut rumahku, tetangga satu per satu berdatangan untuk bertakziah. Hari itu, duniaku runtuh, nuansa kesedihan menyelimuti batinku. Namun, aku berusaha untuk tetap kuat, agar aku bisa membersamai Ibu disaat-saat terakhir aku bisa melihatnya. Aku ikut memandikan, mengkafani, membacakan yasin, menshalatkan, dan mengantar Ibu ke peristirahatannya terakhirnya.
Sejak hari itu, aku kehilangan
sosok yang paling kucintai, sosok yang selalu menjadi tempatku bersandar.
Duniaku terasa hampa, sunyi, dan begitu sepi tanpa kehadirannya. Setiap
langkahku terasa berat, dan setiap napasku terasa sesak. Kehilangan Ibu adalah
bentuk kehilangan paling menyakitkan yang pernah kurasakan.
Rindu ini, bagaikan luka yang
mungkin tak akan pernah sembuh. Setiap hari aku selalu merindukan kehadirannya,
rindu akan pelukan hangatnya, dan rindu akan suara lembut yang selalu mampu
menenangkanku. Aku merindukannya, sangat merindukannya.
Kini rumah terasa sepi tanpa
kehadirannya, tak ada lagi suara lembut yang menyambutku pulang. Biasanya, Ibu
yang paling antusias mendengarkan ceritaku, meski hanya cerita sepele tentang
hariku. Namun, bagiku Ibu adalah tempat cerita ternyaman. Keluh kesahku, yang
dulu selalu Ia dengar dengan sabar, kini hanya bisa kupendam sendirian.
Aku selalu teringat akan sikap
positif yang terpancar dari dalam dirinya, lembutnya perkataan dan
perbuatannya, aura ketenangan yang selalu menyelimutiku saat berada di
dekatnya. Ibu selalu mengedepankan keluarga, bahkan Ia jarang sekali memainkan
ponselnya, Ia lebih senang menghabiskan waktu bersama kami, dan memprioritaskan
momen berkualitas bersama kami, anak-anaknya. Namun, kini semua itu hanya
tersisa kenangan.
Kehilangan seorang Ibu rasanya
seperti kehilangan dunia, seakan hanya ragaku yang masih berada di dunia, namun
jiwaku ikut terkubur bersama jasadnya. Ternyata seberat ini hidup tanpa iringan
doa dari seorang Ibu. Duniaku benar-benar hilang ketika Ibu tidak di sampingku
lagi, tanpa sadar aku mengundang hujan pada kedua kelopak mataku, hingga basah
kuyup setiap kali kumengingatnya.
Kehilangan salah satu orang tua
bagi seorang anak yang masih membutuhkan figurnya seperti badai yang menghantam
secara tiba-tiba, terasa sangat pedih. Hebatnya, walaupun raganya sudah tidak
ada lagi, tapi beliau masih selalu menjadi alasan untukku tetap hidup.
Untuk bumi dan tanah terima kasih
sudah memeluk dan menjaga orang yang paling aku sayangi, aku titip Ibu ya.
Karena aku hanya bisa mendoakannya dari jauh. Bagi dunia, Ia hanya satu orang,
tapi bagi yang ditinggalkan, satu orang itu adalah dunianya.
Bentuk cinta paling indah adalah
ketika aku bisa mengikhlaskan kepergian Ibu untuk selama-lamanya. Aku mencoba
ikhlas walau hati belum sepenuhnya menerima takdir. Aku berusaha melanjutkan
hidupku, aku ingin tetap tegar, menjadi anak yang membanggakan, seperti yang
selalu Ibu harapkan.
Aku tahu, di sana Ibu pasti ingin
melihatku bahagia. Karena itu, aku akan terus berjuang, mengejar cita-citaku,
membuat Ibu bangga di surga sana. Kasih sayang Ibu akan selalu menjadi cahaya
yang menerangi jalanku. Aku percaya, suatu hari nanti, aku pasti akan bertemu
dengan Ibu kembali.
Rindu ini, ungkapan dari lubuk
hatiku yang paling dalam, bentuk penghormatanku untuk bidadari penyayangku,
Ibu. Doa dan restu darinya, akan selalu menjadi penuntun jalanku.
Kini, yang tersisa setelah kepergiannya adalah kenangan indah yang abadi, serta tekad untuk terus melangkah, menorehkan kebaikan seperti yang selalu Ia ajarkan, meneruskan mimpi-mimpi yang belum terwujud, dan selalu berusaha untuk terus mengharumkan namanya. Rest in peace Ibu, doaku selalu menyertaimu. RM



yaallah sedih banget bacanya kaa, semangat terus ya kaa, husnul khatimah buat ibunya kakaa
BalasHapusaamiin, terima kasih banyak kaak🙏🏻🤲🏻
Hapus