Ditulis oleh : Revani Meiliana
Di tengah derasnya arus
globalisasi, generasi muda mudah terjebak dalam pusaran tren, dari budaya
konsumtif, serba branded, hingga flexing di media sosial, tanpa sempat
bertanya: apakah semua itu benar-benar kebutuhan atau sekadar tuntutan agar
terlihat “kekinian”? Ironisnya, kemudahan meniru gaya hidup mancanegara justru
membuat kita rawan kehilangan jati diri.
Pertanyaannya, masihkah Pancasila hadir sebagai pedoman moral dalam keseharian kita? atau hanya tersisa sebagai teks hafalan sejak SD yang tak pernah benar-benar kita resapi? Jika ia hanya tinggal slogan, maka kita sedang melangkah menuju modernitas hampa, sibuk mengejar citra, tapi lupa makna.
Pancasila Lebih dari Sekadar Ideologi
Sering kali Pancasila diposisikan
sebatas ideologi negara atau bahan ujian sekolah. Padahal, esensi Pancasila
jauh lebih dalam, ia adalah filosofi hidup. Lima sila itu bukan sekadar teks,
melainkan panduan moral yang seharusnya menjiwai setiap tindakan kita, dari
interaksi sederhana di media sosial hingga cara kita memandang gaya hidup
modern.
Kalau kita bicara soal gaya hidup, Pancasila bukan berarti menolak modernitas. Justru sebaliknya, Pancasila memberi filter agar kita bisa modern tanpa kehilangan identitas.
Relevansi Pancasila di Era Digital
Meski sudah ditetapkan sejak
1945, Pancasila sama sekali tidak usang. Justru sekarang, ketika hoaks
merajalela, konsumerisme jadi tren, dan perpecahan sosial semakin nyata,
Pancasila menjadi semakin relevan.
Sila pertama mengingatkan kita
untuk tidak menukar spiritualitas dengan kesenangan semu. Sila kedua menegur
kita agar tidak ikut-ikutan jadi pelaku cyberbullying hanya demi eksistensi.
Sila ketiga mengajak kita menolak polarisasi yang sering diciptakan politik
identitas.
Sila keempat menuntun kita untuk bermusyawarah dengan kepala dingin, bukan beradu argumen di kolom komentar. Dan sila kelima, jelas menegaskan pentingnya keadilan, agar tidak berlebihan atau hanya menguntungkan segelintir orang.
Pancasila dalam Gaya Hidup Sehari-hari
Menghidupi Pancasila sebenarnya
tidak serumit yang dibayangkan. Ia bisa diwujudkan dalam hal-hal sederhana:
- Tidak gampang menyebarkan berita bohong.
- Menghargai perbedaan teman kita di kampus atau tempat kerja.
- Mendukung produk lokal daripada selalu bergantung pada brand luar.
- Berani bersuara kritis tapi tetap bertanggung jawab.
- Mengurangi gaya hidup pamer di media sosial yang bisa melukai orang lain.
Bukankah itu lebih nyata daripada sekadar menghafal lima sila tanpa mengamalkannya?
Tantangan Generasi Kita
Saya akui, menjadi generasi muda
di era digital bukan hal mudah. Media sosial sering kali mendikte standar
kebahagiaan, punya barang branded, jalan-jalan ke luar negeri, atau hidup serba
glamour. Tanpa kesadaran akan nilai Pancasila, kita bisa kehilangan arah,
menilai diri hanya dari validasi likes dan views.
Di sinilah peran Pancasila penting. Ia bukan sekadar doktrin negara, melainkan kompas moral yang membantu kita menentukan mana tren yang bermanfaat, mana yang justru merusak.
Pilihan Ada di Tangan Kita
Sebagai mahasiswa, saya percaya
bahwa Pancasila bukan hanya warisan, tapi tanggung jawab. Generasi kita yang
akan membawa Indonesia menuju 2045, dan itu tidak bisa dicapai jika kita
terlepas dari nilai-nilai bangsa.
Pancasila harus hidup dalam keseharian kita, dalam cara kita berpikir, bersikap, hingga menentukan gaya hidup. Dengan begitu, kita bisa tetap modern, global, dan relevan, tanpa kehilangan akar budaya yang membuat kita berbeda. Pada akhirnya, gaya hidup boleh berganti, tapi kompas kita tetap sama, Pancasila. RM