Ditulis
oleh : Revani Meiliana
Wakil
Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, mengingatkan bahaya konten
kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang makin sulit
dibedakan dari kenyataan. Ia mendorong platform digital seperti Meta, Google,
dan TikTok menghadirkan fitur pengecekan otomatis agar publik mudah mengenali
hoaks dan deepfake.
Lonjakan 550 persen konten deepfake secara global dalam lima tahun terakhir menandai babak baru disinformasi. Dengan lebih dari 190 juta pengguna internet, Indonesia kini menghadapi gelombang hoaks berbasis AI: tantangan nyata di era digital yang makin cepat, canggih, dan berbahaya, kebohongan dapat diciptakan algoritma hanya dalam hitungan detik.
Akar
Masalah
Menurut
Alfons Yoshio Hartanto, Editor Periksa Fakta tirto.id, ledakan hoaks AI
disebabkan oleh dua faktor utama, yakni emosi pengguna dan algoritma media
sosial.
“Pelaku
penyebaran informasi palsu tahu betul bahwa emosi kita bisa dimanfaatkan.
Mereka memakai foto atau video lama dengan narasi yang memancing kemarahan,
atau gambar hasil manipulasi AI yang menghilangkan konteks penting,” ujar
Alfons (29/09/25).
Algoritma media sosial memperkuat konten sensasional. Akibatnya, publik sering bereaksi emosional sebelum memverifikasi kebenarannya.
Prediksi
Jumlah Hoaks
Kementerian
Kominfo mencatat lebih dari 11.000 hoaks telah diklarifikasi sepanjang 2024,
dengan 20 persen di antaranya berbasis visual AI. Tren ini menunjukkan jumlah
hoaks AI akan terus meningkat karena pembuatan deepfake kini semakin
mudah.
Menurut
Maria Septian Riasanti Mola, dosen Jurnalistik Politeknik Negeri Jakarta,
fenomena ini sulit dihindari, tapi bisa dikendalikan.
“Hoaks
masa depan bukan lagi berita bohong biasa, tapi berita palsu yang diproduksi
canggih oleh AI. Karena itu, kemampuan berpikir kritis dan verifikasi akan jadi
senjata utama,” jelasnya.
Ia
menilai literasi digital harus diperkuat agar masyarakat mampu menjadi
pengendali, bukan korban teknologi.
“Edukasi penting supaya publik tidak hanya jadi penonton dari kecanggihan teknologi, tapi juga pengontrolnya,” tambah Maria (01/10/25).
Peranan
Hoaks
Hoaks
berbasis AI tak hanya sekadar penyebar kebohongan. Ia menjadi alat penggiring
opini, senjata politik, sekaligus instrumen penipuan digital.
Menurut
Fitri Nur Ardiantika, dosen Pencarian Bahan Berita Politeknik Negeri Jakarta,
bentuk hoaks semakin bervariasi.
“Sekarang
ini hoaks sudah parah banget karena AI. Gambar, suara, bahkan video bisa dibuat
mirip banget sama aslinya. Orang jadi mudah percaya,” ujar Fitri (01/10/25).
Ia mencontohkan banyak kasus penipuan yang menggunakan wajah dan suara palsu untuk memancing korban. Video manipulatif juga kerap mengubah pernyataan tokoh publik hingga memicu salah paham politik.
Kasus
Terkini
Beberapa
kasus terbaru menunjukkan bagaimana AI menciptakan hoaks yang tampak
meyakinkan.
Di
TikTok, video Presiden Prabowo Subianto berpidato dalam bahasa Arab ternyata
hasil manipulasi deepfake dari pidatonya pada acara “Simposium Geopolitik dan
Geostrategis Global 2023”, di mana ia berbicara dalam bahasa Indonesia
(kompas.com).
Serupa
dengan video Presiden Joko Widodo berbahasa Mandarin, yang menurut Kominfo,
merupakan hasil suntingan AI dari rekaman lama di kanal The U.S.- Indonesia Society
(USINDO) tahun 2015.
Manipulasi
lain muncul di YouTube dengan klaim “Jakarta akan tenggelam karena banjir
bandang”. Berdasarkan penelusuran antaranews.com, video itu dibuat dengan
teknologi AI untuk menimbulkan kepanikan publik.
Kasus-kasus ini menegaskan bahwa AI kini menjadi alat ampuh dalam menyebarkan kebohongan politik maupun sosial.
Dampak
dan Risiko
Penyalahgunaan
AI membawa konsekuensi serius. Masyarakat tak hanya menjadi korban informasi
palsu, tapi juga kehilangan kepercayaan terhadap media dan institusi resmi.
Fani
Nur Jannah, dosen Komunikasi PNJ, menilai krisis kepercayaan ini sebagai dampak
paling berbahaya dari era deepfake.
“Teknologi
tidak jahat. Tapi tanpa tanggung jawab, hasilnya bisa merusak kepercayaan
publik,” ujarnya.
Jika
publik terus diserang konten palsu, mereka bisa menjadi skeptis terhadap semua
informasi, termasuk yang benar. Kondisi ini berpotensi mengancam stabilitas
sosial dan demokrasi.
Namun,
Fani menegaskan masa depan tidak harus gelap.
“Kita tidak bisa menghentikan kemajuan teknologi, tapi kita bisa memastikan teknologi berpihak pada kebenaran,” jelas Fani (01/10/25).
Menatap
Masa Depan
Hoaks
berbasis AI diprediksi akan makin sulit dikenali. Teknologi ini mampu
menciptakan gambar, suara, dan video palsu yang tampak nyata, sementara
algoritma media sosial terus mendorong penyebaran konten emosional. Dalam
beberapa tahun ke depan, disinformasi digital akan makin masif dan berpengaruh,
terutama menjelang momen politik besar.
Meski begitu, masa depan masih bisa dikendalikan. Dengan literasi digital yang kuat, regulasi AI yang tegas, serta kolaborasi antara pemerintah, media, dan masyarakat, Indonesia dapat menghadapi era informasi ini secara bijak. Kesadaran publik akan tetap menjadi cahaya yang menjaga ruang digital tetap waras.
Langkah
yang Bisa Dilakukan
Untuk
menekan dampak hoaks berbasis AI, beberapa langkah penting perlu diterapkan:
- Pemerintah
memperkuat regulasi dan sistem deteksi konten AI, termasuk labeling
hasil buatan mesin.
- Media
dan platform digital memperluas rubrik cek fakta serta mengedukasi publik.
- Masyarakat
meningkatkan literasi digital dan membiasakan verifikasi sebelum
membagikan informasi.
Langkah sederhana seperti memeriksa sumber, tanggal, dan keaslian konten dapat menjadi benteng pertama melawan derasnya disinformasi digital. RM
Referensi:
- INDONESIA.GO.ID Portal Informasi
Indonesia:
- Kementerian Komunikasi dan Digital
Republik Indonesia:
https://portal.komdigi.go.id/kanal-publik/berita-kini/9248
- Jabar Saber Hoaks: https://saberhoaks.jabarprov.go.id/v2/artikel/detail/397c6fe4490643d7d0dc059f2f31d9da/MODUS-HOAX-BERBASIS-MANIPULASI-ARTIFICIAL-INTELLIGENCE
- Kanal Periksa Fakta (Kompas.com, Kominfo,
Antaranews.com)
https://www.antaranews.com/berita/4873057/hoaks-video-banjir-bandang-di-jakarta
- Wawancara: Alfons Yoshio Hartanto (Editor Cek Fakta tirto.id), Fitri Nur Ardiantika, Maria Septian Riasanti Mola, Fani Nur Jannah (Dosen PNJ)
keceeee
BalasHapus