Tantangan dan Solusi di Balik Sampah Bantar Gebang

Tumpukan Sampah Menggunung di TPST Bantar Gebang, Minggu (07/09/2025). Foto: Revani Meiliana/REVANEWS.

Ditulis oleh: Revani Meiliana

Bekasi, Reva News – Gunungan sampah yang menjulang di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang, Bekasi, bukan hanya persoalan fisik tumpukan sampah, melainkan juga simbol kompleksitas pengelolaan limbah di wilayah metropolitan terbesar di Indonesia.

Setiap hari, lebih dari 7.000 ton sampah dari Jakarta berakhir di lokasi ini. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah mengapa persoalan ini terus berulang, bagaimana solusi dijalankan, dan sejauh mana dampaknya terhadap masyarakat serta lingkungan sekitar.

Bantar Gebang sejak lama ditunjuk sebagai lokasi pembuangan akhir karena memiliki lahan luas dan letaknya yang cukup dekat dengan Jakarta. Namun, meningkatnya volume sampah seiring pertumbuhan penduduk dan konsumsi masyarakat membuat kawasan ini semakin padat dan penuh tekanan.

Bagi warga sekitar, keberadaan tumpukan sampah bukan sekadar pemandangan sehari-hari, tetapi juga sumber persoalan serius berupa bau menyengat, polusi udara, hingga ancaman kesehatan.

“Memang tidak bisa dipungkiri, sampah itu baunya sangat mengganggu, tapi masyarakat sudah terbiasa karena dari dulu hidup berdampingan dengan kondisi ini,” kata Tarsan, Ketua RT Bantar Gebang, Minggu (7/9/2025).

Untuk meredam keresahan tersebut, pemerintah DKI Jakarta memberikan dana kompensasi bagi masyarakat di empat kelurahan yang berbatasan langsung dengan TPST Bantar Gebang. Dana ini disalurkan baik dalam bentuk tunai maupun pembangunan infrastruktur. Tarsan menuturkan bahwa program ini cukup membantu warga dalam meningkatkan kualitas hidup mereka.

“Secara sosial masyarakat memang antusias ya, kegiatan di lingkungan juga terus berjalan untuk infrastruktur. Ada juga bantuan dana kompensasi yang dikelola DKI, seperti jalan-jalan, masjid, mushola, dan pembangunan sarana ibadah, itu memang bagus dan luar biasa,” ujarnya.

Namun, praktik di lapangan tidak selalu berjalan mulus. Keterlambatan pencairan dana kompensasi kerap memicu keresahan warga. Tarsan mengungkapkan bahwa pernah ada kondisi ketika masyarakat hampir melakukan aksi protes besar-besaran karena dana tak kunjung turun.

“Kadang permasalahan disini yang sangat menonjol sekali, ketika dana bantuan itu telat, masyarakat mulai gaduh, mulai resah karena bantuan belum turun. Pernah juga sampai mereka pengen ngedemo, tapi setelah kita tangani dengan baik dari pemerintahan, RT, RW, kelurahan sampai ke dinas, akhirnya bisa diredam. Tidak lama kemudian dana turun, masyarakat jadi lebih tenang,” jelasnya.

Selain melalui kompensasi, upaya lain dilakukan dengan melibatkan sektor swasta dan warga setempat dalam pengelolaan sampah. Sampah yang tiba di TPST dipilah, kemudian diolah menjadi biji plastik ataupun pupuk kompos. Proses ini tidak hanya mengurangi volume sampah, tetapi juga membuka peluang usaha. Beberapa warga bahkan berhasil mengembangkan bisnis daur ulang dengan omzet yang cukup besar.

“Memang ada manfaatnya buat masyarakat, baik pendatang maupun pribumi yang usahanya mulung sampah. Barang-barang itu kan bermanfaat, bisa dijual ke lapak lalu diolah lagi. Jadi ada timbal baliknya dari pengelola lapak, dan ini menambah lapangan pekerjaan bagi masyarakat bawah,” kata Tarsan.

Meski demikian, dampak negatif tetap tak bisa dihindari. Bau menyengat dan polusi udara masih menjadi keluhan utama warga sekitar. Untuk menanggulangi masalah kesehatan, pemerintah menyediakan layanan kesehatan gratis di puskesmas terdekat. Upaya ini memberi perlindungan dasar bagi masyarakat, meskipun tidak sepenuhnya menghilangkan ancaman penyakit yang mungkin timbul akibat paparan sampah dalam jangka panjang.

“Respon masyarakat tetap baik ya dengan adanya bantuan itu. Mereka sangat terbantu. Dalam per tiga bulan sekali, Rp1.200.000 dapatnya. Walaupun terdampak dari bau sampah, mereka tetap bersyukur karena ada perhatian dari pemerintah,” tambahnya.

Fenomena Bantar Gebang memperlihatkan bahwa pengelolaan sampah bukanlah sekadar urusan teknis tentang menimbun atau mendaur ulang, melainkan persoalan multidimensi yang menyangkut sosial, ekonomi, dan politik. Bagi masyarakat, keberadaan TPA ini menghadirkan dilema. 

Mereka mendapat manfaat berupa kompensasi dan peluang usaha, namun di sisi lain harus hidup dengan kondisi lingkungan yang berisiko. Bagi pemerintah, keterlambatan pencairan dana bisa menjadi pemicu ketegangan sosial yang berbahaya. Bagi lingkungan, tumpukan sampah yang terus membesar menjadi ancaman nyata bagi keberlanjutan ekosistem.

Karena itu, permasalahan Bantar Gebang menegaskan bahwa solusi parsial seperti kompensasi tidak cukup. Diperlukan strategi jangka panjang berupa pengurangan sampah dari sumbernya, penerapan teknologi pengolahan modern seperti waste to energy, serta kolaborasi erat antara pemerintah, swasta, dan masyarakat. Tanpa langkah komprehensif, Bantar Gebang hanya akan menjadi simbol kegagalan dalam mengelola sampah, bukan contoh keberhasilan menuju kota yang berkelanjutan.

“Yang paling penting itu melibatkan masyarakat dalam pengambilan keputusan, jangan sampai mereka hanya jadi penonton. Kalau masyarakat ikut serta, semua masalah bisa diselesaikan bersama,” tegas Tarsan.

Bantar Gebang bukan hanya tempat berakhirnya sampah, tetapi juga cermin dari cara masyarakat mengonsumsi, cara pemerintah mengelola, dan cara semua pihak menanggung konsekuensinya. Pertanyaannya kini bukan lagi bagaimana menampung sampah yang terus datang setiap hari, melainkan bagaimana mencegahnya agar tidak lagi menumpuk hingga menimbulkan masalah yang lebih besar di masa depan. RM

Tumpukan Sampah di TPST Bantar Gebang. Minggu (07/09/2025). Foto: Revani Meiliana/REVANEWS.

Tim Reporter Reva News di TPST Bantar Gebang. 
Minggu (07/09/2025). Foto: Revani Meiliana/REVANEWS.



 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Lebih baru Lebih lama